Kerja sama akademik menemukan makna terbaiknya ketika tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, pertemuan kelembagaan, atau komitmen yang tersimpan di arsip. Kolaborasi perlu bergerak lebih jauh, memasuki ruang kelas, mempertemukan kepakaran dosen dengan kebutuhan belajar mahasiswa, serta melahirkan pengalaman akademik yang nyata dan berdampak.

Semangat tersebut terus dikembangkan oleh Asosiasi Program Studi Pendidikan Keagamaan Islam di Perguruan Tinggi Umum (APPKI) melalui penguatan jejaring antarprogram studi anggotanya. Salah satu implementasinya hadir dalam rangkaian kuliah tamu antara Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta (PAI UNJ) dan Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia (IPAI UPI) pada Selasa, 14 Juli 2026.

Dalam rangkaian kegiatan akademik tersebut, dua dosen PAI UNJ, Dr. Rihlah Nur Aulia, M.A. dan Mushlihin, M.A., berbagi kepakaran dan pengalaman bersama mahasiswa IPAI UPI melalui dua mata kuliah. Dr. Rihlah Nur Aulia hadir dalam mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah yang diampu oleh Dr. Agus Fakhruddin, M.Pd., sedangkan Mushlihin, MA berkolaborasi dalam mata kuliah Bahasa Inggris yang diampu oleh Dr. Cucu Surahman, serta turut menghadirkan Wu Shaoxue dari Guizhou Normal University, Tiongkok.

Dua ruang kuliah tersebut menghadirkan pendekatan pembelajaran yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu visi yang sama, yaitu memperkuat kompetensi mahasiswa Pendidikan Agama Islam agar mampu berpikir kritis, menghasilkan karya akademik, berkomunikasi secara global, dan mempersiapkan masa depan profesionalnya. Melalui jejaring APPKI, pertukaran kepakaran antardosen tidak lagi dibatasi oleh ruang institusi, tetapi bergerak menjadi pengalaman belajar yang dapat dirasakan langsung oleh mahasiswa.

Dalam perkuliahan Penulisan Karya Ilmiah, Dr. Rihlah Nur Aulia mengajak mahasiswa memahami penelitian bukan sekadar sebagai tuntutan akademik atau tugas yang harus diselesaikan menjelang akhir semester. Menulis karya ilmiah merupakan proses intelektual untuk membaca persoalan secara kritis, menemukan kesenjangan, membangun argumentasi, serta mempertanggungjawabkan gagasan melalui proses ilmiah yang sistematis.

Mahasiswa memperoleh penguatan dalam menyusun proposal penelitian, mulai dari merumuskan masalah, membangun kajian pustaka yang relevan, menentukan metodologi, hingga menyusun tulisan sesuai dengan kaidah akademik. Setiap tahapan diarahkan untuk membentuk ketelitian, kemampuan analitis, dan kejujuran akademik sebagai fondasi penting bagi mahasiswa dalam menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas.

Pembelajaran tersebut juga diarahkan pada luaran akademik yang nyata. Gagasan penelitian mahasiswa didorong untuk dikembangkan menjadi proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) melalui skema yang relevan, termasuk PKM Riset dan PKM Kewirausahaan, serta menjadi artikel ilmiah yang berpeluang dikembangkan menuju publikasi.

Pendekatan berbasis luaran ini menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai penerima pengetahuan, melainkan sebagai peneliti muda dan produsen gagasan. Sebuah pertanyaan yang lahir dari kepekaan terhadap persoalan dapat berkembang menjadi penelitian, sementara penelitian yang dikerjakan secara serius dapat menghasilkan inovasi dan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun masyarakat.

Semangat penguatan kompetensi mahasiswa juga terasa dalam perkuliahan Bahasa Inggris. Mushlihin, M.A. bersama Wu Shaoxue mengajak mahasiswa mengeksplorasi masa depan profesional melalui tema “Exploring Future Professional Becoming: IPAI UPI Students Reflect on Their Professional Futures”, dengan seluruh proses pembelajaran berlangsung sepenuhnya dalam bahasa Inggris.

Bahasa Inggris dalam perkuliahan tersebut tidak ditempatkan sekadar sebagai materi tentang tata bahasa atau kosakata yang harus dihafalkan. Mahasiswa justru mengembangkan kemampuan bahasa melalui praktik langsung dengan berbicara, bercerita, menulis refleksi, mendengarkan pengalaman orang lain, berdiskusi dalam kelompok, serta mempresentasikan gagasan tentang perjalanan dan masa depan profesional mereka.

Topik yang dekat dengan kehidupan mahasiswa membuat penggunaan bahasa Inggris terasa lebih autentik dan bermakna. Mahasiswa tidak sekadar berlatih speaking untuk menjawab pertanyaan dosen, tetapi juga menggunakan bahasa untuk menyampaikan mimpi, pengalaman, harapan, dan kegelisahan tentang masa depan yang sedang mereka bangun.

Antusiasme mahasiswa terlihat sepanjang proses pembelajaran. Penggunaan bahasa Inggris secara penuh tidak membatasi interaksi, tetapi justru mendorong mahasiswa untuk berani mencoba, aktif berbagi cerita, dan terlibat dalam diskusi, sehingga ruang kelas menjadi lingkungan belajar yang komunikatif dan penuh energi.

Melalui reflective storytelling, mahasiswa memetakan orang, institusi, nilai, dan pengalaman yang membentuk gambaran masa depan profesional mereka. Keluarga, agama, universitas, dosen, teman sebaya, kondisi ekonomi, perkembangan teknologi, serta aspirasi pribadi muncul sebagai berbagai faktor yang saling berkelindan dalam proses membangun identitas profesional sebagai calon pendidik.

Dalam proses menulis, mahasiswa belajar menata gagasan dan menyusunnya menjadi narasi dalam bahasa Inggris. Cerita yang telah ditulis kemudian dibawa ke dalam percakapan kelompok, dipertemukan dengan pengalaman mahasiswa lain, dan dikembangkan menjadi refleksi kolektif yang dipresentasikan di hadapan kelas.

Rangkaian aktivitas tersebut membentuk pengalaman pembelajaran bahasa yang utuh dan kontekstual. Mahasiswa menulis untuk menata pemikiran, berbicara untuk menyampaikan pengalaman, mendengarkan untuk memahami perspektif lain, serta berdiskusi dan melakukan presentasi untuk membangun keberanian berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Di balik aktivitas bahasa tersebut, mahasiswa juga diajak memahami bahwa masa depan profesional bukan sekadar keputusan untuk memilih sebuah pekerjaan. Konsep future professional becoming menempatkan perjalanan profesional sebagai proses yang terus-menerus dalam membentuk diri dan menegosiasikan aspirasi, nilai, tanggung jawab, serta berbagai harapan yang hadir dalam kehidupan.

Sebagian mahasiswa menunjukkan keyakinan kuat untuk menekuni profesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam, sementara sebagian lainnya masih berada dalam proses eksplorasi. Perbedaan pengalaman tersebut justru memperkaya dialog karena mahasiswa belajar bahwa setiap perjalanan profesional memiliki dinamika, tantangan, dan proses pertumbuhannya sendiri.

Dua pengalaman pembelajaran pada hari itu memperlihatkan luasnya ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan melalui jejaring APPKI. Kolaborasi antarprogram studi tidak harus selalu diwujudkan melalui seminar besar atau kegiatan seremonial, tetapi dapat tumbuh melalui ruang kelas ketika dosen berbagi kepakaran, mahasiswa memperoleh perspektif baru, dan praktik baik dari satu program studi dipertemukan dengan pengalaman akademik program studi lainnya.

Bagi APPKI, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk konkret implementasi kerja sama antarprogram studi anggota dalam memperkuat mutu Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi umum. Jejaring asosiasi menjadi semakin bermakna ketika mampu mendorong mobilitas pengetahuan dan kepakaran dosen, membuka ruang kolaborasi pembelajaran, serta memperluas pengalaman akademik mahasiswa.

Kebutuhan untuk berkolaborasi menjadi semakin penting di tengah perubahan cepat dalam pendidikan tinggi. Program studi Pendidikan Agama Islam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penguatan budaya riset, kemampuan komunikasi global, perkembangan teknologi, kesiapan profesional lulusan, hingga kebutuhan menghadirkan pendidikan agama Islam yang tetap relevan dengan dinamika masyarakat.

Melalui APPKI, setiap program studi dapat membawa pengalaman, kepakaran, dan praktik baik yang dimilikinya untuk dipertemukan dalam ruang kolaborasi. Ketika potensi tersebut saling terhubung, dosen dapat berbagi keahlian melampaui batas institusi, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas, dan program studi dapat tumbuh dengan saling menguatkan.

Rangkaian kuliah tamu ini sekaligus memperkuat kontribusi APPKI dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan kemampuan riset, literasi akademik, kompetensi bahasa, komunikasi, dan refleksi profesional mahasiswa selaras dengan SDG 4: Quality Education, sementara kesiapan mahasiswa dalam membangun masa depan profesional mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth.

Dorongan untuk mengembangkan gagasan penelitian menjadi proposal PKM dan artikel ilmiah juga beririsan dengan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure melalui penguatan budaya inovasi berbasis pengetahuan. Pada saat yang sama, kolaborasi PAI UNJ dan IPAI UPI sebagai sesama anggota APPKI, yang turut diperkaya perspektif akademisi dari Guizhou Normal University, menjadi praktik nyata SDG 17: Partnerships for the Goals.

Pada akhirnya, dua ruang kuliah pada hari itu menghadirkan dua proses belajar yang saling melengkapi. Di satu kelas, mahasiswa belajar mengubah pertanyaan menjadi penelitian dan gagasan menjadi karya ilmiah, sementara di kelas lainnya mahasiswa menggunakan bahasa Inggris untuk menulis, berbicara, bercerita, dan merefleksikan masa depan profesional mereka.

Satu ruang belajar menguatkan keberanian mahasiswa untuk meneliti dan menghasilkan karya, sedangkan ruang lainnya menumbuhkan keberanian untuk berbicara dan menemukan suara profesional. Keduanya memperlihatkan bagaimana kolaborasi antarprogram studi dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kaya, kontekstual, dan berorientasi pada masa depan.

Melalui rangkaian kuliah tamu ini, APPKI kembali menegaskan perannya sebagai ruang yang menghubungkan kepakaran, mempertemukan praktik baik, dan mendorong kerja akademik bersama antarprogram studi Pendidikan Keagamaan Islam di perguruan tinggi umum. Sebab kerja sama yang kuat tidak hanya terlihat dari luasnya jejaring yang dibangun, tetapi dari sejauh mana jejaring tersebut hidup dalam pembelajaran, tumbuh melalui gagasan mahasiswa, dan bergerak menjadi karya serta kontribusi nyata bagi masa depan pendidikan Islam.