Asosiasi Prodi Pendidikan Keagamaan Islam di Perguruan Tinggi Umum (APPKI) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat budaya akademik dan internasionalisasi pendidikan tinggi melalui penyelenggaraan Guest Lecture & International Webinar bertajuk “Islam and Science: An Overview of the Field”. Kegiatan yang diselenggarakan bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (PAI FISH UNJ) ini berlangsung secara daring pada Senin, 29 Juni 2026 melalui Zoom Meeting dan menghadirkan Dr. Shoaib Ahmed Malik dari University of Edinburgh, School of Divinity sebagai narasumber utama.

Webinar internasional tersebut menjadi salah satu ruang kolaborasi akademik yang mempertemukan dosen, mahasiswa, peneliti, guru, serta masyarakat umum untuk mendiskusikan hubungan antara Islam dan sains dari perspektif akademik yang komprehensif. Tingginya antusiasme peserta membuat kuota Zoom yang tersedia terpenuhi sehingga sebagian peserta mengikuti kegiatan melalui siaran langsung di kanal YouTube Program Studi PAI UNJ. Seluruh rangkaian kegiatan disampaikan dalam bahasa Inggris, memberikan pengalaman akademik internasional sekaligus memperkuat kompetensi komunikasi global para peserta.

Sebagai organisasi yang mewadahi Program Studi Pendidikan Keagamaan Islam di Perguruan Tinggi Umum, APPKI memandang forum semacam ini sebagai langkah strategis dalam memperluas jejaring keilmuan antarkampus sekaligus menghadirkan akses yang lebih luas terhadap pemikiran para akademisi dunia. Kehadiran peserta dari berbagai Program Studi anggota APPKI, sivitas akademika Universitas Negeri Jakarta, perguruan tinggi lain di Indonesia, hingga peserta dari luar negeri menunjukkan bahwa kolaborasi akademik mampu melampaui batas institusi dan geografis ketika dibangun atas semangat berbagi ilmu pengetahuan.

Dalam paparannya, Dr. Shoaib Ahmed Malik mengajak peserta meninggalkan cara pandang yang menempatkan agama dan sains sebagai dua kutub yang saling berhadapan. Ia menjelaskan bahwa sains dan Islam memiliki wilayah epistemologis yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam memahami realitas. Sains bertugas menjelaskan mekanisme alam melalui pendekatan empiris, sedangkan Islam memberikan landasan mengenai makna, tujuan, nilai, dan dimensi metafisik kehidupan. Dengan perspektif tersebut, dialog antara agama dan sains justru menjadi ruang kolaborasi yang produktif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.

Salah satu gagasan penting yang menjadi perhatian peserta adalah perlunya pendekatan multidisiplin dalam mengembangkan kajian Islam dan sains. Malik menegaskan bahwa bidang ini tidak dapat dibangun hanya oleh ilmuwan atau ulama secara terpisah. Kolaborasi antara ilmu-ilmu alam, filsafat, sejarah, teologi Islam, dan studi agama menjadi fondasi penting untuk melahirkan kajian yang utuh, kritis, dan relevan terhadap berbagai tantangan kontemporer.

Bagi APPKI, gagasan tersebut memiliki makna strategis dalam pengembangan pendidikan keagamaan Islam di perguruan tinggi umum. Tantangan masyarakat abad ke-21 tidak lagi dapat dijawab melalui pendekatan disiplin tunggal. Oleh karena itu, Program Studi Pendidikan Agama Islam perlu terus mengembangkan kurikulum yang mendorong mahasiswa memiliki kemampuan berpikir lintas disiplin, literasi sains, literasi digital, serta kemampuan berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai Islam.

Pada sesi akhir, Dr. Malik juga memberikan perhatian khusus terhadap peran calon guru agama dalam menghadapi karakteristik Generasi Z dan Alpha. Menurutnya, pembelajaran Islam dan sains perlu dimulai dari realitas yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Film fiksi ilmiah, anime, video game, kecerdasan buatan, maupun perkembangan teknologi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun diskusi mengenai teologi, etika, dan nilai-nilai Islam secara lebih kontekstual. Pendekatan tersebut dinilai mampu menghadirkan pembelajaran agama yang lebih relevan, komunikatif, dan inspiratif bagi generasi masa depan.

Respons peserta terhadap penyelenggaraan webinar menunjukkan apresiasi yang sangat positif. Secara umum, peserta menilai materi yang disampaikan memberikan wawasan baru mengenai relasi Islam dan sains, narasumber mampu menyampaikan pembahasan secara mendalam dan sistematis, serta penyelenggaraan kegiatan berjalan dengan baik. Banyak peserta mengaku memperoleh perspektif baru tentang pentingnya membangun dialog konstruktif antara tradisi intelektual Islam dan perkembangan sains modern, sekaligus terdorong untuk mengembangkan kajian tersebut dalam pembelajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Pelaksanaan webinar ini juga menjadi implementasi nyata kontribusi APPKI terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui penyelenggaraan forum ilmiah internasional yang terbuka bagi berbagai kalangan, kegiatan ini mendukung SDG 4 (Quality Education) dengan menyediakan akses terhadap pembelajaran berkualitas yang menghadirkan para pakar dunia. Sementara itu, kolaborasi antara APPKI, Program Studi PAI UNJ, serta berbagai perguruan tinggi anggota dan institusi lain di dalam maupun luar negeri mencerminkan penguatan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kemitraan akademik yang produktif dan berkelanjutan.

Ke depan, APPKI berkomitmen untuk terus memperluas ruang kolaborasi antarprogram studi, memperkuat jejaring akademik nasional dan internasional, serta menghadirkan forum ilmiah yang mampu menjawab berbagai isu strategis dalam pendidikan keagamaan Islam. Melalui sinergi tersebut, APPKI berharap lahir generasi akademisi, peneliti, dan pendidik yang tidak hanya memiliki pemahaman keislaman yang kokoh, tetapi juga mampu berdialog secara kritis dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemajuan pendidikan Islam dan peradaban global.