Kamis, 4 Desember 2025 menjadi penanda penting bagi arah baru Prodi PAI di Perguruan Tinggi Umum. Di UNJ, APPKI memfokuskan energi besar pada satu titik krusial: penentuan profil lulusan. Bukan sekadar rumusan administratif, tetapi wajah masa depan mahasiswa PAI yang akan hadir di tengah masyarakat.

Forum ini bergerak dalam suasana serius, terbuka, dan penuh tanggung jawab. Para dosen tidak hanya berbicara tentang capaian pembelajaran, tetapi tentang siapa lulusan PAI yang ingin dihadirkan—berilmu, berakhlak, adaptif, dan relevan dengan tantangan zaman. Dari ruang ini, APPKI melihat kesadaran kolektif yang kuat: kurikulum boleh berbeda konteks, tetapi profil lulusan harus memiliki arah yang seimbang antara keilmuan, karakter, dan kebermanfaatan sosial.

Diskusi mengalir tajam. Setiap Prodi membawa realitas lapangan. Tantangan masyarakat, tuntutan dunia kerja, hingga kebutuhan generasi muda menjadi bahan timbang bersama. Tidak ada dominasi. Yang ada adalah kesepakatan menuju satu tujuan: melahirkan lulusan PAI yang tidak hanya siap mengajar, tetapi juga siap memimpin perubahan.

Semangat perumusan dan kolaborasi tidak berhenti di ruang workshop. Ia langsung diwujudkan dalam langkah nyata melalui pelaksanaan kerja sama pertukaran dosen. Jumat, 5 Desember, Dosen IPAI UPI hadir sebagai dosen tamu dalam pembelajaran di Prodi PAI UNJ; Dr Agus Fakhrudin, M.Pd menjadi dosen tamu di mata kuliah Metode Penelitian dan Dr. Wawan Hermawan, M.Ag menjadi dosen tamu di mata kuliah Fikih. Ini bukan sekadar pertukaran dosen. Ini adalah penguatan langsung terhadap profil lulusan yang sedang dirumuskan—lulusan yang kritis secara metodologis dan kokoh secara keilmuan fikih.

Dari sudut pandang APPKI, inilah kolaborasi ideal. Profil lulusan dirumuskan bersama, lalu diperkuat melalui praktik nyata di ruang kelas. Kurikulum tidak berhenti di konsep. Ia bergerak dalam pembelajaran. Dampaknya terasa langsung pada mahasiswa.

Dari UNJ, APPKI menegaskan satu arah bersama: Profil lulusan dipertegas, Kurikulum diselaraskan dan Kolaborasi digerakkan.

PAI di Perguruan Tinggi Umum tidak sedang berjalan sendiri. Ia tumbuh melalui kesepakatan bersama, kerja kolektif, dan keberanian menatap masa depan dengan lebih terarah.

 

Catatan Kecil dari Workshop Kurikulum Asosiasi