Suri Tauladan yang Baik

/, Berita, Kolom/Suri Tauladan yang Baik

Suri Tauladan yang Baik

JAKARTA — Makkah,  Senin 12 Rabiul Awal tahun Gajah bertepatan 20 April 570 M, lahirlah seorang manusia agung. Empat puluh tahun kemudian, bayi dari pasangan Abdullah dan Siti Aminah yang diberi nama Muhammad itu menerima wahyu dan menjadi Nabi pembawa risalah Islam.

Muhammad SAW menjadi Rasul terakhir penutup rangkaian nabi-nabi dan rasul-rasul Allah di muka bumi.  Ia adalah salah seorang nabi yang tertinggi di antara lima rasul yang termasuk ke dalam golongan ulul azmi (mereka yang memiliki keteguhan hati).

Sejak muda Muhammad dikenal sebagai sosok yang berkepribadian mulia.  Menginjak usia 20 tahun, Muhammad sudah mendirikan Hilful-Fudul, sebuah lembaga yang bertujuan membantu orang miskin dan orang teraniaya.  Melalui lembaga yang didirikannya itu, sifat-sifat kepemimpinannya sudah mulai tampak.

Namanya semakin dikenal sebagai orang terpercaya. Selain beraktivitas di Hilful Fudul, Muhammad pun aktif berniaga membantu pamannya. Tak heran jika relasi dagangnya semakin luas. Kejujurannya segera tersiar dari mulut ke mulut. Sehingga, ia mendapat gelar al-Amin yang berarti orang yang terpercaya.

Pada usia 25 tahun, Muhammad dipercaya seorang saudagar kaya raya bernama  Khadijah binti Khuwailid untuk berniaga ke Suriah. Berkat kejujurannya dalam berdagang, pencapaiannya dari hasil berniaga itu melebihi perkiraan. Khadijah yang telah lama menjanda itu akhirnya menaruh kekaguman kepada Muhammad.

Muhammad dan Khadijah akhirnya menikah. Pernikahan yang penuh kebahagiaan dan rasa cinta itu dikaruniai enam anak, dua putra dan empat putri bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum dan Fatimah. Kedua putranya meninggal semasa masih kecil.

Jiwa keadilan dan kemanusiaan yang tumbuh dalam diri Muhammad semakin di kenal masyarakat dari waktu ke waktu. Ketika terjadi sebuah persoalan penting yang tak menemui jalan keluar, Muhammad selalu menjadi solusi. Ketika berusia 35 tahun, ia sudah dipercaya untuk mengangkat Hajar Aswad atau batu hitam pada Ka’bah ke tempatnya semula.

”Itu dia al-Amin, orang yang terpercaya. Kami rela menerima keputusannya,” ungkap penduduk Makkah, saat mereka berselisih tentang siapa yang berhak mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya, saat Ka’bah diperbaiki karena terkena banjir. Dengan penuh keadilan, Muhammad mengajak seluruh kepala suku untuk mengangkat Hajar Aswad.

Menjelang usia 40 tahun, Muhammad sering memisahkan diri dari keramaian untuk mencari jalan keluar agar masyarakat  tak lagi menyembah berhala. Ia sering mengasingkan diri ke Gua Hira yang berjarak 6 kilometer di sbelah timur laut kota Makkah.  Di sebuah gua yang sempit dan gelap, ia bertafakur dan beribadah menurut agama Ibrahim AS.

Pada 17 Ramadhan bertepatan 6 Agustus 611, ia melihat cahaya terang-benderang memenuhi ruang gua itu. Muhammad menerima wahyu lewat perantara Malaikat Jibril. ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang mencipatakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS: al-Alaq: 1-5).

Setelah menerima wahyu yang keempat, yakni surah al-Muddasir ayat 1-7, Nabi Muhammad mulai berdakwah. Ia memulai dakwah dari keluarga sendiri secara diam-diam. Setelah sejumlah orang beriman kepada ajaran yang dibawa Muhammad, lalu turun perintah Allah SWT agar dakwah dilakukan secara terang-terangan.

Berbagai tantangan, hambatan, tekanan dan siksaan dihadapi Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah Islam.  Hingga akhirnya,  ajaran Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia.  Nabi Muhammad SAW adalah manusia mulia yang menjadi teladan bagi seluruh umat hingga akhir zaman.

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS: al-Ahzab: 21).

Nabi Muhammad Saw di utus ke dunia tak hanya untuk mengubah keyakinan dari paganisme ke tauhid. Rasulullah SAW, sebagai seorang nabi juga pantas disebut sebagai pejuang kemanusiaan. Dengan gigih, Rasulullah SAW mengubah sitem, pranata, hukum, melahirkan kesejahteraan serta menghapus penindasan. Ajaran yang dibawanya secara tegas menentang tirani yang sudah berakar dalam budaya pra-Islam.  Rasulullah berhasil meruntuhkan tirani tersebut dalam waktu kurang dari seperempat abad masa kenabiannya.

Nabi Muhammad SAW juga dikenal sebagai seorang negarawan teragung sepanjang sejarah manusia. Ia telah memberi sumbangan penting kepada filsafat politik lewat konsep musyawarah. Rasulullah SAW mengembangkan bentuk pemerintahan yang menerapkan prinsip Musyawarah di semua tingkatan, jauh dari praktik politik autokrat atau aristokrat.

Dalam menjalankan kekuasaan, Nabi Muhammad SAW selalu mengukuhkan sistem yang menjamin kebaikan, keadilan, kejujuran dan kesalehan bagi semua kalangan, tanpa memandang warna kulit, keyakinan, mapun ras.

Ia juga mewariskan prinsip tata administrasi pemerintahan. Semua orang yang memiliki kemampuan dan kecakapan memiliki kesempatan untuk menduduki jabatan dan mengemban amanah. Peringatan Maulid Nabi 1431 H ini hendaknya dijadikan momentum untuk meneladani semua akhlak Rasulullah dan menjadikannya idola dan panutan. N Ensiklopedi Islam/Ensiklopedi Muhammad

sumber : republika.co.id

2017-12-01T09:34:07+00:00 December 1st, 2017|Categories: Artikel, Berita, Kolom|